Oleh: tuldut | Desember 27, 2009

Calon Arang

Hai…adik-adik, jumpa lagi ya…lama tidak menulis cerita karena kakak ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.

Pada kesempatan kali ini kakak mau mengucapkan Selamat Natal 2009 dan Selamat Menyambut Tahun Baru 2010. Semoga kesuksesan ada pada adik-adik semua…Oh ya.. raportnya untuk semester 1 kali ini baik-baik kan? Jangan lupa belajar ya….supaya naik kelas.

Pada kesempatan kali ini kakak mau cerita tentang Calon Arang. Pernah dengar Calon Arang kan? Kalau belum coba simak coretan kakak kali ini ya……{selamat membaca…}

Pada jaman dahulu kala di jaman kerajaan Daha yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Erlangga. Raja Erlangga terkenal bijaksana dalam memerintah kerajaannya.

Di wilayah kerajaan Daha tersebut hiduplah seorang janda yang bernama Calon Arang. Calon Arang ini terkenal kesaktiannya. Ilmunya sangat tinggi, terkenal jalma limpat jalma mati. Namun ilmu yang dianut oleh Calon Arang ini masuk dalam golongan ilmu hitam. Ilmu hitam, sesuai namanya karena sering digunakan untuk hal-hal atau kepentingan-kepentingan yang tidak baik atau mengandung unsur kegelapan (hitam). Calon Arang ini mempunyai seorang putri yang sangat cantik, yang bernama Ratna Manggali.

Walaupun cantik dan sudah berumur, Ratna Manggali belum juga mendapatkan jodohnya. Pemuda-pemuda tersebut tidak mau mendekali apalagi mempersunting Ratna Manggali karena perilaku dari ibunya ya si Calon Arang yang memiliki perilaku yang tidak baik.

Melihat hal tersebut Calon Arang menjadi marah. Merasa tertampar wajahnya, dengan sikap kebanyakan pemuda yang mempersoalkan kondisi dirinya, sehingga Ratna Manggali harus menanggung aib seperti itu. Kemurkaannya dilampiaskan dengan menyuruh para pengikutnya untuk mencari tumbal yaitu seorang gadis. Gadis tersebut dijadikan tumbal di candi Durga. Dengan tumbal tersebut Calon Arang menghendaki atau menginginkan warga desanya terkena musibah.

Atas kehendak Jawata, tuah dari Calon Arang menjadi kenyataan. Musibah tersebut berupa banjir. Banjir yang besar yang melanda desa, dan siapapun yang terkena air dari sungai Brantas akan menderita sakit dan akhirnya bisa meninggal. Banjir yang berlangsug lama mengakibatkan korban semakin banyak dan obat tidak sanggup menanggulangi. Hal ini lebih karena kesaktian dari Calon Arang.

Berita musibah tersebut akhirnya sampai juga ke telinga Raja Erlangga. Dan Raja Erlangga sangat sedih mendengar kabar tersebut. Banyak warga yang menderita akibat tuah si Calon Arang. Mendengar hal itu, Raja Erlangga memerintahkan para prajurit untuk menangkap Calon Arang.

Maka berangkatlah sepasukan prajurit untuk melakukan penangkapan. Namun kesaktian Calon Arang tidak tertandingi. Walau banyak prajurit masih tidak mampu menangkap seorang Calon Arang. Bahkan banyak prajurit yang berjatuhan karena terkena ilmu jarak jauh dari Calon Arang.

Mendengar hal tersebut, Raja Erlangga melakukan pertemuan terbatas dengan Empu Barada dan Empu Bahula. Sesuai saran dari Empu Barada, karena kekesalan Calon Arang dikarenakan ratna Manggali yang belum juga mendapatkan jodoh, maka penyelesaiannya adalah mencarikan jodoh untuk Ratna Manggali. Dari hasil pertemuan tersebut maka diperintahkan oleh Sang Raja, Empu Bahula untuk menikahi Ratna Manggali.

Calon Arang menerima usul tersebut dengan sengang hati mengingat Empu Bahula adalah seorang empu yang masih tampan dan gagah, sehingga menurut Calon Arang, sangatlah cocok untuk bersanding dengan Ratna Manggali.

Setelah Calon Arang merasa yakin akan menantunya sang Empu Bahula, maka pada suatu waktu, Empu Bahula dapat mengetahui letak kekuatan dari Calon Arang sekaligus tahu kelemahan dari Calon Arang. Maka pada suatu malam, ketika Calon Arang tertidur lelap, Kitab Sihir milik Calon Arang dicuri oleh Empu Bahula untuk diserahkan kepada Empu Barada. Dengan lepasnya Kitab Sihir dari tangannya, maka kekuatan dari Calon Arang diharapkan tidak ada artinya.

Melihat bahwa Kitab Sihirnya hilang dan tahu bahwa Empu Barada yang merupakan dalang dari semua ini, maka dikerahkanlah seluruh ilmu Calon Arang untuk menyerang Empu Barada. Namun dengan hilangnya Kitab Sihir dari tangannya, maka semua ilmu sihirnya kembali menerpa atau menghantam dirinya dan menjadikannya hancur, menjadi debu dan tertiup angin ke laut selatan.

Semenjak kejadian itu, maka keadaan desa kembali menjadi tenang, aman dan tidak ada lagi musibah sakit penyakit lagi. Maka senanglan Raja Erlangga.

Demikian adik-adik, cerita kakak kali ini, semoga senang dan tetaplah bergembira.

Salam,


Responses

  1. kak tuldut…

    senang akhirnya nemu juga tulisan tentang dongeng anak-anak:)…great job

    cuma mau usul, yang cerita ini mungkin lebih bagus kalo ditambah pesan-pesan yang bisa diambil manfaatnya, seperti cerita kancil dan siputnya, yang sudah OK:)

    ini kira-kira buat cerita usia anak berapa ya? beberapa kata (misalnya berumur, pertemuan terbatas, dan tuah) saya pikir terlalu berat dimengerti oleh adek-adek yang terlalu kecil, tapi si papa/mama nya mungkin bisa bantu buat menerangkan artinya.

    chayo kak^^V

  2. Terima kasih ya mbak 1t3k, atas komentarnya. Semoga kedepan semakin baik dalam menyunting cerita atau dongeng anak.

    Sebetulnya dongeng ini lebih ditujukan kepada orang tua, sesuai motto : Sayangi Anak dengan Dongeng yang Menarik dan Mendidik. Jadi dari anak-anak yang belum baca tulis sampai yang sudah besar boleh koq…tidak dilarang.

    Salam dongeng…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: